Call Center
+62 21 2940 6565

TASIKMALAYA - Hampir tidak ada penerangan sama sekali pada malam itu. Tanah Lumbung Ternak Wakaf (LTW) Tasikmalaya seluas sekitar satu hektare tersebut benar-benar diselimuti gelap, kecuali salah satu kandang yang terletak di ujung. Bahkan, dari ujung pintu masuk kandang, sekira 100 meter ke depan, terlihat lampu menyala dari kandang tersebut.
“Gelap, ya, sepanjang jalan tadi? Memang sengaja tidak kita pasangi lampu di sini buat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” sambut Puji Rabu (31/7) malam itu. Puji meyakini, adanya sinar lampu juga membuat ternak-ternak kambing tidak akan berkembang dengan baik.
Tapi satu lampu menyala di kandang pembibitan, tempat anak-anak kambing berada. Malam itu Puji beserta lima orang karyawan LTW lainnya, kebagian jatah piket untuk memberikan susu kepada kambing-kambing kecil itu. Selain itu juga, mereka mesti berkeliling mencari tahu apakah ada kambing yang beranak atau tidak.


“Biasanya kalau piket kita beri susu dulu anak-anak kambing di kandang breeding ini. Lalu ada juga yang tugas berkeliling memastikan di kandang-kandang kambing ini ada yang beranak atau tidak. Kalau ada, biasanya suaranya hampir mirip bayi manusia betulan. Kalau orang yang tidak tahu, terus dengar suara tangisan anak kambing malam-malam begini pasti lari karena dikiranya hantu,” kisah Puji sembari tertawa.
Jatah piket biasanya berlangsung dari pukul 21:00 hingga 24:00 WIB. Setelahnya, karyawan yang piket boleh kembali ke rumahnya dan kembali lagi ke kandang pada subuh hari untuk kembali berkeliling. Namun kata Puji, terkadang waktu mereka bisa lebih panjang dari itu.
“Kadang ada kambing beranak, dan beranaknya itu susah sekali. Kita bantu biar cepat keluar anaknya itu bisa sampai lewat dari jam 12. Kadang lagi keliling juga, ada yang kakinya tersangkut di kandang terus mengeluarkannya lama lagi. Tapi, ya itu sudah risiko kita,” kata Puji.

Odik, rekan Puji yang ikut piket malam itu, menceritakan bahwa mereka terkadang juga melewatkan kambing-kambing tersebut beranak dan baru mengetahuinya pada keesokan harinya. Oleh karenanya, diadakan kembali piket pada subuh untuk melihat apakah ada kambing yang terlewat oleh mereka ketika berkeliling di malam hari. “Ya, kadang-kadang kita ke sini sudah ada saja tiga atau empat ekor anakan baru keluar. Untungnya anakan-anakan itu selamat karena kita datangnya subuh lagi ke sini. Kalau susu induknya sudah tidak produktif, misalnya, anakan itu langsung dipindahkan dan kita kasih susu tersendiri,” kata Odik.
 

Selesai berkeliling, Odik dan Puji akhirnya duduk kembali. Mereka menikmati kopi dan potongan-potongan singkong goreng yang sejak awal tersedia di atas piring. Malam itu menurut jadwal, ada enam orang yang piket.
“Enaknya begini kalau malam-malam piket. Kita kan bisa sambil kumpul-kumpul di sini. Bikin makanan sambil mengobrol biar tidak sepi-sepi amat,” kata Odik sembari menawari singkong goreng. []