Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, TANAH LAUT – Sabaiyah (60) hampir setiap hari berjalan kaki seorang diri menyusuri jalanan desa. Kedua tangannya membawa ember dan jeriken berisi air. Perjalanan menanjak sejauh lima puluh meter dari rumah terasa jauh bagi tubuh tuanya. Sesekali Sabaiyah berhenti untuk sekadar melepas penat. Rutinitas mengambil air itu dilakoni Sabaiyah dan warga di Desa Kintap RT 1 selama lebih dari 20 tahun. 

Desa Kintap merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan Kintap adalah salah satu permukiman tertua di Tanah Laut. Nama daerah ini sudah ada di dalam Hikayat Banjar yang ditulis terakhir pada 1663. 

Sudah bertahun-tahun warga Desa Kintap RT 1 mengalami kesulitan air bersih. Topografi wilayah yang berupa pegunungan menyebabkan biaya pembuatan sumur menjadi sangat mahal. Padahal, sebagian besar warga hanya bekerja sebagai buruh kayu, buruh sawit, dan supir. Penghasilan rata-rata mereka adalah Rp 1,5 juta per bulan. 

Kondisi jalan desa sebagian masih berupa tanah dan berlubang-lubang. Wilayah desa yang bersisian dengan hutan dan kebun sawit juga kerap dilewati truk-truk pengangkut sawit dan kayu. Ini yang menyebabkan jalan desa mengalami kerusakan terus menerus. Sedangkan rumah-rumah penduduknya kebanyakan merupakan bangunan tua yang terbuat dari kayu.

Dahulu, Desa Kintap menjadi salah satu area tambang batu bara. Namun, kini area itu hanya menyisakan lubang-lubang yang berjarak tak kurang dari 500 meter dari permukiman. Kondisi air dari lubang bekas tambang itu kini juga digunakan sebagian warga untuk mandi, sebagian dari mereka tidak memiliki Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di rumah. 

Sebanyak 50 keluarga di Desa Kintap RT 1 mengandalkan satu-satunya sumber air bersih milik salah satu warga yang berada di dataran rendah. Warga harus membayar Rp 2 ribu untuk satu jeriken dan Rp 70 ribu untuk satu tandon atau setara 120 liter. Hal ini bukan pilihan mudah bagi Sabaiyah karena ia hanya seorang janda tanpa pekerjaan. Suaminya telah meninggal dunia, sehingga untuk kebutuhan sehari-hari Sabaiyah hanya mengandalkan bantuan anaknya. 

Awal Juli lalu, tim MRI-ACT Kalimantan Selatan berkesempatan berbincang dengan Sabaiyah di rumahnya, sebuah naungan sederhana yang juga nampak tua. Dinding kayu sudah kusam dan atap hanya terbuat dari daun rumbia.  

“Setiap hari ambil air ke sumur di bawah, jalan kaki,” tutur Sabaiyah, semburat matanya sayu kala bicara. “Sumur hanya terisi saat musim penghujan. Itu pun terkadang air tidak bisa dikonsumsi hanya untuk cuci dan mandi,” imbuhnya. 

Sabaiyah hidup bergantung dari anak-anaknya. Tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukannya di usia senja. “Anak kerja jadi sopir angkut kayu, cukup untuk makan sehari-hari,” ujarnya sambil sesekali membenarkan daster lusuhnya. “Semoga desa kami ada yang bantu,” lirihnya berdoa.  

Melihat kondisi tersebut, Kepala Cabang ACT Kalsel Zainal Arifin mengungkapkan, ACT Kalsel akan hadir di Desa Kintap melalui program Sumur Wakaf. “Air bersih menjadi kebutuhan penting hari ini dan masih banyak dialami warga, salah satunya di Desa Kintap. Tentu kita harus hadir membantu. Insyaallah sumur wakaf jadi solusi yang ACT berikan untuk permasalahan sulitnya air bersih ini,” pungkasnya. []