Call Center
+62 21 2940 6565

ATAMBUA – Musim kemarau menyelimuti Iduladha tahun 2018 lalu di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Debu beterbangan terbawa angin ke berbagai arah. Suasana panas tak menyurutkan semangat tim Global Qurban-Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengirimkan hewan kurbannya ke penjuru Atambua.

Pada hari kedua tasyrik 2018 lalu, Global Qurban-ACT mendistribusikan daging kurban ke Desa Sukabitetek, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Desa ini merupakan salah satu permukiman tempat warga eks-Timor Timur (Timor Leste) bermukim.

Di Desa Sukabitetek, muslim menjadi minoritas. Hanya ada 10 kepala keluarga muslim saat awal berpisahnya Timor Leste dengan Indonesia. Sedangkan hingga Iduladha 2018 lalu, jumlah tersebut berkembang menjadi 27 KK. “Kami di sini sebagian besar merupakan mualaf. Kami memilih Indonesia, tanpa membawa harta apa pun saat keluar wilayah Timor Leste,” terang Mutohari, salah satu warga.

Daging kurban yang didistribusikan untuk warga Desa Sukabitetek, sebelumnya telah disembelih di Masjid Hidayatullah, Atambua. Masjid itu dijadikan sentral pemotongan hewan kurban dari Global Qurban sebelum dikirimkan ke berbagai pelosok Belu dan Kabupaten Malaka.

Di Masjid Hidayatullah, warga membantu proses penyembelihan, pencacahan, hingga pengemasan daging. Relawan Global Qurban Rahmat Zainudin mengungkapkan, selepas salat Iduladha, warga berbondong-bondong ke masjid untuk membantu persiapan pemotongan hewan kurban.

“Kami jadikan Masjid Hidayatullah sebagai pusat pemotongan dan distribusi daging hewan kurban di Atambua. Hal ini mengingat ketersediaan alat serta sumber daya manusianya. Tiap harinya, sejak hari pertama Iduladha, puluhan hewan kurban dipotong. Total ratusan ekor sapi yang kami potong,” jelas Rahmat kala itu.

Ratusan hewan kurban yang disembelin Global Qurban-ACT di Atambua ini merupakan hewan lokal. Hewan ini telah diternak bertahun-tahun oleh masyarakat setempat dan dibeli oleh Global Qurban. “Dengan begini kita dapat memberdayakan peternak lokal karena kebutuhan hewan kurban sangatlah tinggi,” tambah Rahmat.

Pendistribusian daging kurban kala itu mampu menerbarkan kebahagiaan hingga pelosok negeri, khususnya Atambua. Daerah tepian negeri ini masih menyimpan masyarakat dalam kondisi perekonomian prasejahtera. []