Additionally, paste this code immediately after the opening tag:
Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, BOGOR - Murid-murid Madrasah Tsanawiyah (MTS) Mazzro’atussibyan biasanya agak sulit untuk mengambil air wudu ketika hendak melaksanakan salat. Untuk keperluan air wudu, seringkali mereka mengantre sehingga salatnya seringkali tertinggal.

“Kalau dulu memang susah kita mau ambil air. Alhamdulillah semenjak ada Sumur Wakaf dari Global Wakaf, kebutuhan air di sekolah ini jadi lebih mudah,” kata Muhammad al-Fauzan, salah satu siswa MTS Mazzro’atussibyan pada Sabtu (22/6) lalu.

Fauzan juga mengatakan, selain untuk keperluan sekolah, Sumur Wakaf juga kerap digunakan untuk keperluan sehari-hari warga. “Biasanya juga air dari Sumur Wakaf di sini juga digunakan untuk bantu air pembangunan, mencuci, mandi juga. Selain itu kalau orang mau beribadah ke masjid, ambil airnya juga suka di sini,” Fauzan menjelaskan.

Ihwal tersebut dibenarkan oleh Slamet Ilyas, salah satu ketua RT setempat. Sekalipun terletak di dalam sekolah, Sumur Wakaf yang terletak di MTS Mazzro’atussibyan, Kampung Cengal, Desa Karacak, Kabupaten Bogor, bermanfaat juga buat warga. Pasalnya, kondisi geografis membuat hampir seluruh daerah tersebut kesulitan air.

“Daerah kami ini memang daerah terpencil dan keadaannya berada di dekat bukit. Umumnya mata air di daerah kami ini terletak di bawah (bukit), kalau orang Sunda bilang. Jadi mata air itu susah kalau tidak kami ambil sendiri ke sana sebelum ada sarana dan prasarana,” ungkap Slamet.

Slamet memperkirakan Sumur Wakaf itu kini telah membantu hingga sekitar 50 kepala keluarga. Semenjak air dari sumur itu dialirkan menggunakan pipanisasi, warga memperoleh air dari Sumur Wakaf langsung ke rumahnya. Sehingga, mulai jarang warga yang mengambil air ke tempat sumur berada.

“Sekarang berhubung air yang dari Sumur Wakaf itu sudah pakai pipanisasi, jadi masyarakat langsung gunakan air yang mengalir melalui pipanisasi itu. Sumur Wakaf di sekolah sekarang lebih sering untuk kebutuhan sekolah dan masjid saja yang jumlahnya sekitar 200 orang siswa,” ujar Slamet. Perawatan serta pengelolaan Sumur Wakaf juga diserahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Kini Sumur Wakaf tersebut menjadi sumber air sehari-hari untuk masyarakat. Terutama musim kemarau, di mana air di kampong tersebut tidak kering, melainkan debit airnya berkurang. Slamet berharap nantinya Sumur Wakaf dapat lebih besar lagi karena kebutuhan air masyarakat yang cukup mendesak.

“Kami berharap dapat lebih besar dan airnya lebih berlimpah, sebab air ini lebih bermanfaat dan lebih berguna di kehidupan manusia daripada hal-hal lain. Kami sangat berterima kasih kepada Global Wakaf yang telah memprakarsai segalanya: fasilitas, tenaga, pikiran, dan hartanya. Dan juga mudah-mudahan untuk para donatur, pemberiannya dapat menjadi sedekah buat kami yang membutuhkan ini,” ucap Slamet. []