Additionally, paste this code immediately after the opening tag:
Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, KABUPATEN BOGOR - Syukur yang pertama kali diucapkan Ustaz Irfan ketika Sumur Wakaf bisa dimanfaatkan airnya. Salah satu pengajar di Pesantren Raudhatul Iman di Kampung Rawasari, Desa Karyasari, Kabupaten Bogor ini mengaku, ketersediaan air bersih menunjang ibadah para santrinya. Selama tiga tahun sejak Sumur Wakaf rampung dibangun, para santri dapat beribadah lebih baik lagi, terutama dari segi waktu.

Sebelumnya, air begitu sulit untuk didapatkan di pesantren ini. Karena debit air yang minim, para santri pada akhirnya sering ketinggalan ketika salat berjamaah karena mengantre wudu. Salat mereka pun sering masbuk (menyusul). Selain itu jika antreannya terlampau panjang, mereka sering menggunakan air musala luar pesantren  karena sulitnya air di daerah tersebut.

“Dahulu sebelum dibangun Sumur Wakaf, santri-santri ambil air di tempat umum, jadi salatnya sering masbuk. Alhamdulillah, kini santri bisa berjamaah, jadi tidak ada istilah masbuk lagi. Salatnya tepat waktu, bahkan tidak kesusahan untuk urusan MCK dengan adanya sumur dari Global Wakaf ini,” kata Ustad Irfan pada Jumat (21/6) lalu.

Selain para santri, beberapa warga sekitar pesantren juga ikut memanfaatkan Sumur Wakaf yang terletak di dalam pesantren ini untuk kebutuhan sehari-hari. Irfan mengatakan ada sekitar 10 kepala keluarga yang ikut menggunakan bahkan merawat sumur ini agar airnya tetap mengalir jernih.

“Ada warga yang ikut menggunakan, itu sekitar 10 kepala keluarga. Sumurnya sampai sekarang masih kita jaga dan kita rawat, listriknya dari pesantren, kalau yang bersih-bersih ada tetangga dan warga sekitar juga ikutan merawatnya,” jelasnya.

Dengan perawatan dari pesantren serta warga sekitar, kualitas air dari Sumur Wakaf dapat terus terjaga. Bahkan menurut Ustaz Irfan, pada musim kemarau panjang dua bulan lamanya, sumur tersebut tidak mengalami kekeringan dan terus mengalirkan air yang jernih kepada 90 orang santri yang menimba ilmu di sana.

“Kalau masuk musim kemarau, saya dan para santri bisa-bisa tidak menggunakan air sampai dua bulan. Kalau memang masih ada di warga, kami akan minta ke sana. Tetapi kalau sudah tidak ada, kami bisa ambil ke sungai. Jaraknya sekitar 500 meter,” ujar Irfan. Jarak yang tidak begitu jauh tersebut menjadi masalah ketika para santri mesti bolak-balik ke sungai untuk wudu atau memenuhi kebutuhan MCK-nya.

Setelah 3 tahun berlalu semenjak Sumur Wakaf menghadirkan air jernih di sana, Ustaz Irfan berharap ke depannya dapat meningkatkan Sumur Wakaf di Pesantren Raudhatul Iman dari segi teknis, sehingga bisa lebih baik dari sekarang.

“Harapan saya ke depan dapat bertambah lagi airnya. Kalau airnya lebih banyak juga, selain dapat digunakan dan cukup untuk para santri, warga sekitar yang memanfaatkan sumur ini juga bisa lebih banyak lagi,” ujar Irfan. []