Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, KEPULAUAN ANAMBAS – Waktu belum genap menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Senin (21/5). Udara masih dingin, tapi tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) sudah siap berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang. Kami bersiap melakukan perjalanan jarak jauh dengan tujuan akhir di Matak, Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau.

Gema dari pengeras masjid yang membangunkan warga untuk makan sahur terdengar di mana-mana. Di sepanjang perjalanan menuju bandara tak sedikit bocah-bocah kecil berkeliling permukiman. Menabuh bedug, membangunkan warga dari tidurnya. Jalan tol masih lengang, hanya butuh 50 menit dari pinggiran Jakarta hingga sampai di bandara.

Sampai di Soekarno-Hatta waktu sudah menjelang subuh. Makan sahur di bandara menjadi pilihan. Tim ACT sudah berada di bandara sejak subuh untuk menghindari kemungkinan macet di sepanjang jalan. Hal itu mengingat kami melakukan perjalanan di hari kerja. Di Anambas, tim ACT akan melakukan pendistribusian paket Ramadan yang dibawa secara terpisah dengan Kapal Ramadhan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Ke Matak, dari Jakarta, tak ada pesawat langsung. Perlu transit di Batam, Kepulauan Riau. Penerbangan dari Jakarta ke Batam memakan waktu lebih kurang satu setengah jam. Pun dari Batam hingga Bandara Matak, hanya perlu waktu satu setengah jam paling lama. Akan tetapi, perjalanan tim ACT hingga mendarat di Matak dari Jakarta lebih kurang sembilan jam. Menunggu penerbangan selanjutnya saat transit di Batam yang menjadi lama, hingga lebih dari empat jam.

Dari Batam untuk tujuan Matak hanya ada satu penerbangan komersial. Itu pun tak setiap hari ada penerbangan dari Batam. Hanya ada di hari Senin, Rabu dan Jumat dari Batam ke Matak. Sedangkan Selasa, Kamis, Sabtu untuk penerbangan sebaliknya.

Pesawat yang digunakan dari Batam ke Matak merupakan pesawat dengan baling-baling di kedua sisinya. Sedangkan pesawat hanya dapat menampung penumpang kurang dari 40 orang. Ini merupakan pesawat yang tak terlalu besar, yang sering digunakan di berbagai daerah di Indonesia yang mayoritas daerahnya terdiri atas pulau-pulau, seperti di Kepulauan Anambas.

Dari atas pesawat, tersuguh pemandangan Kepulauan Riau. Pulau-pulau kecil terlihat jelas dari jendela saat pesawat belum sepenuhnya terbang dalam ketinggian 16 ribu kaki. Laut biru di bagian yang lebih dalam, sedangkan laut dangkal warna birunya tak terlalu pekat, sehingga dasar laut dengan karang-karang yang masih terjaga dapat terlihat, walau samar.

Banyak pulau kecil yang menyusun Provinsi Kepulauan Riau. Dari atas, pulau-pulau kecil dengan pantai berpasir putih terlihat tanpa adanya permukiman warga. Perahu-perahu dan bagan-bagan nelayan untuk mencari ikan terlihat kecil, tapi banyak, meramaikan bentangan lautan yang luas.

Tiba di Anambas

Pilot menginstruksikan kepada penumpang bahwa beberapa saat lagi akan mendarat di Bandara Matak, Anambas. Lampu peringatan untuk menggunakan sabuk pengaman dinyalakan, tanda penumpang harus duduk di kursinya dan bersiap dengan goncangan yang wajar saat pesawat mendarat.

Deru mesin serta putaran baling-baling pesawat semakin kencang. Suasana yang sangat berbeda dengan menaiki pesawat besar dari Jakarta tujuan Batam. Jika penumpang tak terbiasa dengan suara mesin yang keras, mungkin akan menjadi pengalaman yang sedikit menakutkan.

Pesawat semakin terbang rendah menjelang mendarat di Bandara Matak. Gugusan pulau kecil Anambas terlihat. Di beberapa pulau, tepian pantainya dipenuhi pemukiman. Merekalah warga yang tinggal di Anambas dengan sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Kami pun mendarat di Bandara Matak. Bandara ini tak besar, ini merupakan bandara perusahaan minyak dan gas, Medco Energi, yang juga menjadi mitra ACT dalam pendistribusian paket Ramadhan untuk masyarakat Anambas menggunakan Kapal Ramadhan tahun 2019. Tak banyak pesawat layaknya di bandara komersial lain. Hanya ada beberapa helikopter yang terparkir di bandara. Bandara juga tak ramai penumpang yang menunggu penerbangan. Hal ini mengingat penerbangan keluar Matak baru akan dilakukan keesokan harinya, Selasa (21/5).

Keluar pintu pesawat, udara panas menyambut. Di kabupaten yang tak jauh dari garis khatulistiwa ini, suhu panas dapat mencapai 32-35 derajat Celsius. “Selamat datang di Anambas, udaranya memang panas karena tak jauh dari khatulistiwa. Mungkin perlu penyesuaian waktu pertama kali datang seperti ini,” sambut Saiful Bachtiar dari tim Medco Energi yang menjemput kami di depan Bandara Matak, Senin (20/5).

Dari Bandara Matak, tim ACT diajak ke kantor Medco Energi yang letaknya persis di depan bandara. Tim beristirahat sebentar sambil menunggu persiapan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Desa Sri Tanjung, Kecamatan Siantan, Kepulauan Anambas. Siantan merupakan ibu kota kabupaten terluar ini.

Setelah beristirahat, tim ACT dan Medco Energi melakukan perjalanan ke Sri Tanjung, perlu waktu lebih kurang 15 menit menggunakan mobil menuju pelabuhan Matak.  Di pelabuhan Matak sudah menunggu kapal cepat yang hanya dapat memuat penumpang maksimal tujuh orang. Penyeberangan dari Matak menuju Siantan memakan waktu lebih kurang 30 menit. Membelah selat antarpulau di Kepulauan Anambas. Beruntung, cuaca sedang bersahabat siang itu. “Kalau cuaca buruk tidak disarankan untuk menyeberang,” tutur Saiful.

Berbuka puasa

Hampir seharian tim ACT melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Matak dan dilanjutkan ke Desa Sri Tanjug, ibu kota Kabupaten Anambas. Perjalanan panjang ini akan menjadi ibadah puasa yang berat bagi yang belum terbiasa dengan cuaca yang lebih panas dari ibu kota Jakarta.

Di Sri Tanjung, Siantan, kami mengadakan acara buka puasa bersama dengan masyarakat setempat. Bertempat di Masjid Raudhatul Jannah, acara juga diiringi dengan serah terima bantuan secara simbolis kepada kepala desa Sri Tanjung, Penglek (30).

Di Sri Tanjung, masyarakat setempat menyuguhkan olahan ikan sebagai hidangan berbuka puasa. Sejak siang, mereka secara bersama-sama memasak di depan masjid. Aroma ikan bakar serta ramainya warga menghangatkan suasana. Sedangkan laut biru dengan gugusan bukit-bukit di pulau seberang menjadi latar belakang. “Islam di sini (Sri Tanjung) minoritas, sebagian besar masyarakat beragama Buddha dan agama lainnya, tapi mereka hidup rukun,” ungkap Penglek, Senin (20/5).[]