Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, HAMPAR HULU - Sungai Kampar yang melintasi Desa Tabing, Kecamatan Koto Hampar Hulu, Provinsi Riau, nampaknya belum mampu memenuhi kebutuhan air untuk seluruh warga desa tersebut. Memang, air Sungai Kampar yang menjadi sumber utama air untuk warga masih bersih dan biasanya dipakai untuk mencuci dan mandi oleh warga Desa Tabing.

Tetapi jauh di salah satu bagian Desa Tabing yang pemukiman penduduknya yang kurang padat, masyarakat harus menempuh jarak yang cukup panjang demi kebutuhan mencuci dan mandi mereka. “Untuk daerah paling jauh di desa ini penduduknya harus jalan ke sungai sekitar 4 kilometer, tapi itu bukan daerah padat penduduk. Kalau daerah paling padat penduduknya mesti jalan ke sungai sekitar 1 kilometer,” ujar Benny Hibban dari tim Global Wakaf, Jumat (26/4).

Tim Global Wakaf sendiri memilih untuk membangun Sumur Wakaf di daerah padat penduduk. Lokasi pembangunan sumur yang dibangun sejak awal Maret ini menurut Hibban, dimaksudkan supaya masyarakat lebih mudah untuk mengaksesnya.

Selain dari Sungai Kampar, beberapa warga yang terlalu jauh mengambil air sebenarnya juga mengandalkan sumur galian di dekat daerah mereka. Namun sumur galian yang berkedalaman rata-rata 5-10 meter tersebut, masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan air warga ketika kemarau tiba. Menurut Hibban ini dikarenakan kontur tanah Desa Tabing yang berbentuk bebatuan, sehingga airnya tidak begitu banyak.

“Sumur galian milik warga itu sebenarnya cukup buat aktivitas, walau debit airnya terhitung masih kecil. Sulitnya itu kalau kemarau. Memang tidak sampai kering total, tapi jadi sedikit sekali airnya dan sudah sering terjadi seperti itu,” jelas Hibban.

Mengantisipasi hal tersebut, Sumur Wakaf yang diinisiasi oleh Global Wakaf dibangun menggunakan bor dengan kedalaman hingga 70 meter. Azwir selaku Kepala Desa Tabing, mengakui hal tersebutlah yang membuat proses pengerjaan agak rumit. "Proses pengerjaannya cukup susah kemarin. Tiga kali kita lakukan pengeboran ulang karena tidak dapat airnya. Tapi kita bersyukur, akhirnya dapat ditemukan titik yang tepat, dan bisa digali hingga 70an meter," katanya.

Penggunaan bor ini dimaksudkan untuk meminimalisir kecilnya debit air ketika kemarau. Tidak hanya sumur bor, Hibban menceritakan Sumur Wakaf ini juga dilengkapi dengan toilet dan tempat wudu. “Selain membangun sumur bor dengan kedalaman 70 meter sini kami juga membangun 4 unit toilet dan 2 set tempat wudu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera dipakai oleh warga sekitar,” ujarnya. 

Kendati air sudah dapat dipakai, Hibban menjelaskan Sumur Wakaf kini belum dapat dimanfaatkan secara umum karena proses pengecatan masih berlangsung. Setidaknya Hibban menargetkan pengecatan tersebut selesai esok hari.

Dengan hadirnya Sumur Wakaf di Desa Tabing, warga merasa senang karena akan terbantu kebutuhan air bersihnya. Azwir, mewakili warganya berterima kasih dan berharap Sumur Wakaf ini agar dapat dimanfaatkan segera oleh warga.

"Kita berharap memang sumur bor ini sudah selesai sebelum ramadan. Sekarang akhirnya dapat selesai juga. Terima kasih kita ucapkan kepada wakif, kepada Global wakaf, dan semua relawan yang terlibat pembangunan sumur," ucap Azwir. []