Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, LEBAK - Belasan ibu rumah tangga mengantre sembari membawa jeriken di belakang Masjid Baitul Rahman. Semenjak Januari 2017, masjid yang terletak di Kampung Teras, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak ini, menjadi tempat pendistribusian air bersih untuk warga setempat. Air bersih tersebut diambil langsung dari Sumur Wakaf di Masjid Baitul Rahman.

Warga berterima kasih karena merasa dimudahkan dengan adanya pendistribusian air bersih dari Sumur Wakaf yang diinisiasi oleh Global Wakaf ini. Sejumlah warga menuturkan, sebelum adanya Sumur Wakaf, mereka harus berjalan jauh ke sumber air setiap harinya agar dapat suplai air bersih. Sumber air bersih tersebut berupa kolam yang menampung air dari gunung.

 

“Sebelum ada air ini, saya ambil air ke bawah. Jaraknya sekitar setengah kilometer dan itu ambilnya tiga kali satu hari. Kalau satu hari bisa satu sampai lima jeriken sekali saya bawa,” jelas Salma, warga Kampung Teras.

Sumber air yang berada jauh di kaki perbukitan Kampung Teras, membuat air sama sekali tidak mengalir sampai ke warga yang bermukim di bagian atas. Sehingga, mereka harus berjalan sejauh setengah kilometer untuk mengambil air di wilayah bawah.

Selama dua tahun terakhir, warga tidak lagi berjalan jauh untuk mengambil air di wilayah bawah. Mereka kini mengambil air bersih di Sumur Wakaf yang ada di Masjid Baitul Rahman.

 

“Air dari Sumur Wakaf ini biasanya saya pakai untuk mencuci, untuk ke kamar mandi, kalau mau ke sawah juga saya ambil air dari sini. Pokoknya sekarang saya sudah tidak perlu repot-repot lagi,” ungkap Salma.

Sumur Wakaf sendiri memanfaatkan air yang ada di kolam penampungan air buatan warga, tempat di mana warga harus berjalan jauh ke bawah untuk mendapatkan air bersih. Air dari penampungan tersebut lantas disedot dan dialirkan melalui pipa hingga ke Sumur Wakaf yang berada di dekat pemukiman warga di perbukitan.

 

Jadwal pendistribusian air bersih biasanya dilakukan sebanyak dua kali, yakni pada pagi dan sore. Busro selaku Lurah Sindangsari menjelaskan, penjadwalan pendistribusian air bersih ini untuk pemeliharaan pompa air agar dapat terus berfungsi. Bagi Busro, pemeliharaan fasilitas sumur seperti pompa air, mesin, paralon, dan kabel listrik amat diperlukan karena jika Sumur Wakaf bermasalah, dapat berdampak pada perilaku kebersihan warga yang buruk.

Busro menceritakan, ketika sumur tidak bisa digunakan karena masalah pada alat-alat pendukungnya, warga kerap buang hajat di sembarang tempat. Apalagi saat malam hari ketika warga tidak bisa mengambil air ke bawah bukit.

“Bayangkan saja kalau di malam hari misalkan air tidak ada, jamban tidak ada, berarti mereka pakai plastik. Kemudian siangnya dibuang entah ke pinggir hutan, atau ke kebun dekat rumah,” tutur Busro.

 

Bahkan menurut Busro, warga Kampung Teras lekat dengan citra sebagai penderita asma. Setelah diteliti lebih lanjut, salah satu faktornya adalah dari kebiasaan buang hajat tersebut. Busro memang tak memiliki data pasti mengenai jumlah penderita, namun menurutnya penyakit tersebut kerap menjangkiti warga dengan penduduk sekitar 800 jiwa tersebut. Sampai sekarang ia terus berusaha menghilangkan kebiasaan buruk warga melalui beberapa program, salah satunya dengan menerapkan gaya hidup bersih melalui program Sumur Wakaf.

Hingga kini, Busro dan warga setempat terus berikhtiar untuk memelihara Sumur Wakaf yang ada. Biaya pemeliharaan Sumur Wakaf ditanggung sepenuhnya oleh warga, dengan menyumbang Rp 10.000 per orangnya. Selain itu, warga juga menyediakan jadwal piket untuk merawat sumur, seperti memeriksa pipa air atau membersihkan sumur. []